Jakarta banjir!. Ah, sudah biasa. Eh beneran deh, kali ini banjirnya luar biasa. Menurut kompas.com, banjir menguasai ibu kota.
**
Akibatnya? Ribuan warga terjebak banjir dan terlambat di evakuasi dan puluhan ribu orang terpaksa mengungsi ke posko pengungsian terdekat karena rumah mereka tidak bisa dihuni karena terkena banjir. Hari Jumat ini, perkantoran banyak yang sepi karena karyawan tidak masuk karena rumahnya kebanjiran, atau tidak ada alat transportasi untuk berangkat ke tempat kerja. Bencana susulan yang dikhawatirkan adalah penyakit setelah banjir: leptospirosis dan diare.
**
Penyebabnya? Menurut media cetak, karena hujan deras terus menerus melanda Jakarta di hari Kamis dan Jumat, dan drainase di Jakarta sudah tidak terpelihara dan ketinggalan jaman. Haduh, ini pemerintah Jakarta kemana aja sih, ngurus drainase doang ga becus. Coba kalo ngebangun mall, pol-polan! Ngurusin drainase yang basic dan penting untuk hajat hidup orang banyak, ga beres!
**
Akibat langsungnya? Kita di sini dapat kiriman ‘banjir’ sms dari Jakarta. Breaking news dan News update. Rumah my mom tercinta di Duren Tiga juga kena banjir. Hari Kamis siang banjir pertama kali masuk rumah, air masuk sampai sebetis. Semua orang di rumah dikerahkan mengangkat barang-barang yang bisa diangkat biar selamat dari banjir. Enggak lama banjir surut. Seperti biasa ritual orang setelah banjir: ngepel gila-gilaan dan mendesinfektan seluruh lantai rumah. Lalu Kamis malamnya seluruh orang di rumah siap-siap mau istirahat tidur. Ternyata Jumat siang banjir kedua datang. Air masuk lagi sampai semata kaki. Lagi-lagi orang di rumah dan bala bantuan yang datang begadang. Setelah air surut, semua mengepel dan lagi-lagi menebarkan karbol ke lantai. Pinggang rasanya mau rontok deh, gitu kata my sister. Iya, ngebayang kok dilanda banjir dua kali berturut-turut. Sambil dalam hati kami semua berdoa, semoga tidak ada banjir ketiga. Tapi apa mau dikata, hari Sabtu subuh banjir ketiga datang. Astaghfirullah. Belum pernah kejadian seperti ini. Banjir sampai 3 kali berturut-turut. Sampai blog ini diupload, belum ada update sampai seberapa parah banjir ketiga ini.
**
Kondisi di sini? Sedih banget mikirin yang di Jakarta. Pingin deh bantuin ngangkat-ngangkat barang ke tempat yang lebih tinggi, ngepel-ngepel sambil main air, dan nyiramin karbol ke seluruh lantai. Tapi apa daya. Cuma bisa berdoa, berdoa dan berdoa supaya yang di Jakarta terus sabar dan sehat enggak ada yang terkena penyakit. Tapi dalam hati masih bersyukur, banjirnya ‘hanya’ sebatas betis dan mata kaki, meskipun sudah bikin pinggangnya my sister serasa mau rontok. Di tempat lain banyak yang lebih parah sampai rumah pun tidak bisa dihuni gara-gara banjir.
**
Siapa yang salah? Ah, susah deh kalo musti nyalahin orang lain. Tapi kalo boleh ngomong, yang salah Sutiyoso barangkali? Sudah bertahun-tahun jadi gubernur, teteeeep aja ga becus ngurus Jakarta!
**
Jadi mikir lagi, setelah Tsunami di Aceh dan Pangandaran, gempa di Jogja dan di tempat lain, KM Senopati Nusantara di Laut Jawa, AdamAir di .. eh entah di mana, masih pingin pulang?
**
**
Update. Alhamdulilah banjir ketiga di rumah nyokap hari Sabtu subuh tidak separah banjir sebelumnya. Kata my sister, ‘cuma’ semata kaki. Banjir ketiga ini ditanggapi my sister dengan ringan: "Ga papa, kita banjir ga sendirian kok. Yang lain juga pada kena banjir hehe." Begitu bunyi sms dari my sister. Ah, manusia memang mudah beradaptasi. Padahal waktu banjir pertama, isi smsnya ga sesantai itu
**
Btw, hari minggu ini baca di detik.com bahwa Bang Yos bilang kalau banjir Jakarta kali ini akibat fenomena alam. Huaaaaaa, pingin ketawa deh dengernya. Fenomena alam gundulmu, kata my hubby. Lha di Belanda yang lowland, daratannya lebih rendah dari permukaan laut, juga kena efek global warming, tapi (Alhamdulilah) ga ada banjir tuh!. Lagian gimana ga ada banjir sih Bang Yos, yang dibangun ruko ama mall melulu, tapi ga punya kanal. Trus itu anggota De-Pe-eR yang tiap tahun studi banding ke Belanda ngapain ajah? Ga usah susah-susah studi banding segala lah, nyontek aja pembangunan kanal di sini. Lah itu di daerah Kebon Baru Tebet, banjir dari tahun 80-an (belum ada global warming toch tahun segitu?) tapi teteeeep aja tiap tahun sampe tahun 2007, banjir melulu.
**
Haduh, maaf ya saudara-saudara yang kebetulan baca. Saya emosi sekali dengar gubernur Jakarta mengkambinghitamkan fenomena alam. Maka dengan ini saya dengan blak-blakan mengkambinghitamkan gubernur Jakarta, Sutiyoso, sebagai penyebab banjir setiap tahun di Jakarta yang tidak pernah ada solusinya. Mudah-mudahan Sutiyoso tahu diri sehingga tahun ini tidak usah lagi mencalonkan diri sebagai gubernur.
**