Sekolah Jangan Setengah-Setengah

StudentBaru pertama kali aku dan my hubby jadi orang tua yang harus mencari sekolah di Jakarta yang pas untuk Adam. Sekolah yang pas, maksudnya yang menurut kami paling optimal buat Adam. Yang pernah punya pengalaman mendaftarkan sekolah buat anak di Jakarta, pastilah tahu bahwa di Jakarta itu ada banyaaak sekali sekolah yang berlomba-lomba menarik minat orang tua untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah tersebut. Itulah sebabnya kita harus kritis memilih mana sekolah yang cocok untuk anak kita dan seesuai dengan kantong kita (alias ga terlalu mahal). Tulisan ini sekedar cerita sedikit pengalaman aku waktu mencari sekolah taman kanak-kanak (TK) buat Adam.

**

Ada sekolah yang menjanjikan bahasa pengantar bilingual bahasa Inggris-bahasa Indonesia, tetapi pengajar yang mengajarkan bahasa Inggris bukan native speaker melainkan guru yang dibekali dengan kemampuan berbahasa Inggris. Yang jadi masalah adalah jika guru tersebut kemampuan berbahasa Inggrisnya kurang baik tetapi sudah ditugaskan untuk mengajar di kelas bilingual. Sehingga anak-anak jadi terbiasa berbahasa Inggris yang kurang baik, kurang tepat, atau bahkan salah. Contohnya enggak usah jauh-jauh deh, di tempat anakku sekolah menjanjikan tahun depan sekolah tersebut akan dimulai program bilingual. Mulai dari sekarang, anak-anak sudah diajarkan berbahasa Inggris oleh seorang guru yang kalau bicara dengan anak-anak di kelas seperti ini contohnya: "Ayo anak-anak, sit down".  Atau "Anak-anak, lets count ada berapa jepit di rambutnya Anissa". Atau "What colour jam tangannya Aditya?". Aku yang dengernya prihatin banget. Bagaimana kemampuan berbahasa anak-anak itu nanti kalau diajari bahasa yang gado-gado begitu? Lebih baik tingkatkan dulu kemampuan berbahasa Inggris si guru, jangan mengajar jika kemampuannya hanya setengah-setengah.

**

Ada juga sekolah yang menjanjikan trilingual bahasa Inggris-bahasa Indonesia-bahasa Arab. Aku sendiri belum pernah melihat proses belajar di sekolah trilingual itu, mudah-mudahan anak-anak tidak diajar bahasa campur-campur Inggris-Indonesia-Arab.

**

Kalau menurut aku, kalau seorang guru tidak baik kemampuan bahasa Inggrisnya, lebih baik JANGAN mengajari anak berbahasa Inggris. Karena si anak nanti kalau berbicara dalam bahasa Inggris akan terdengar aneh atau malah jadi salah. Aku sendiri hampir tidak pernah mengajak Adam berbahasa Inggris di rumah, karena aku tahu bahwa bahasa Inggris aku masih jauh dari sempurna. Paling aku hanya sebatas mengajarkan Adam lagu anak-anak dalam Inggris. Rencananya nanti kalau Adam sudah cukup besar akan aku masukkan ke kursus bahasa Inggris yang gurunya (meskipun orang Indonesia) memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik.

**

Selain sekolah ‘bilingual’ atau ‘trilingual’, ada juga sekolah yang menjanjikan kelas terpisah. Antara murid dengan kemampuan ‘biasa’ alias tidak terlalu pintar atau tidak terlalu cerdas, dipisahkan kelasnya dengan murid berkemampuan ‘luar biasa’ alias pintar dan cerdas. Maksud pemisahan ini, menurut yang aku baca di website sekolah tsb, adalah supaya anak yang kemampuannya ‘luarbiasa’ bisa ditangani secara khusus. Waduh, kalau nanti aku masukkan anakku di sekolah itu dan  ternyata anakku termasuk yang berkemampuan ‘biasa’, apakah nanti tidak membuat si anak minder? Kalau menurut aku, tujuan sekolah adalah untuk membangun dan mengasah kecerdasan dan kemampuan si anak, dan bukan untuk memperkenalkan rasa minder.

**

Yang menarik juga adalah sekolah-sekolah super duper mahal yang menawarkan sistem IB (International Baccalaureate), pengertiannya bisa dibaca disini. Bagi orang tua pada umumnya, pengertian sekolah IB adalah sekolah yang kurikulumnya sudah disamakan dan diakui oleh universitas-universitas di luar negri sehingga nanti kalau si anak lulus setingkat SMA dari sekolah yang bersertifikat IB, si anak bisa langsung (atau lebih mudah?) masuk ke universitas di luar negri. Padahal kalau kita mau sedikit berfikir, ternyata tidak semua universitas di luar negri meminta IB sebagai persyaratan untuk masuk universitas. Bahkan universitas-universitas ranking utama di Eropa dan Amerika memiliki sistem penerimaan mahasiswa sendiri. Punya atau tidak punya ijasah dari sekolah berkurikulum IB tidak menjadi masalah. Si anak tetap bisa mendaftar ke universitas-universitas ranking utama di Eropa dan Amerika asalkan si anak lulus seleksi. Jadi ga ada gunanya dong nyekolahin anak mahal-mahal ke sekolah berkurikulum IB? Tentu ada gunanya, pastinya sekolah berkurikulum IB bermaksud agar anak dilatih berkemampuan ’sama’ dengan anak-anak di luar negri sehingga nanti mereka menjadi lebih kompetitif saat mereka mendaftar ke universitas di luar negri.

Hanya saja bagi mereka yang tidak menyekolahkan anaknya ke sekolah berkurikulum IB, tak usah merasa sedih tidak dapat menyekolahkan anaknya ke sekolah ‘terbaik’. Tidak. Banyak kok sekolah lain yang tanpa berkurikulum IB, tetapi tetap memiliki kualitas yang baik.

**

Ternyata bener kalau temen aku ada yang pernah bilang, "Anak gue yang mau sekolah, kok gue yang stress ya?". Emang susah sih cari sekolah yang tepat untuk anak :)

Sebenarnya, kalau menurut saya, didikan utama bagi anak dimulai dari rumah. Orang tua harus bisa senantiasa memberikan contoh yang baik kepada anaknya. Orang tua di rumah bisa mengajarkan sopan santun, kasih sayang, disiplin, bermain, belajar dan bereksplorasi. Apa yang diajarkan di sekolah bukan 100 persen tanggung jawab guru, tapi juga tanggung jawab dari orang tua. Bayangin aja 24 jam sehari, anak di sekolah dan di tempat kursus paling lama 10 - 11 jam. selebihnya 14 sampai 13 jam dihabiskan anak di rumah bersama pengasuh atau orang tua. Jadi, biar gimana pun orang tua atau pengasuh tetap berperan penting dalam mendidik anak, bukan hanya guru.

**

WisudaSampai hari ini aku dan my hubby belum memutuskan Adam akan disekolahkan di sekolah dasar (SD) yang mana. Selama 2 tahun ke depan masih akan kami gunakan untuk mencari sekolah mana yang tepat buat Adam. Tapi kalau sekolah SMA, kita udah rencana akan nyekolahin Adam ke SMUN 8 di Bukit Duri Jakarta. Kenapa? Soalnya kita berdua ‘produk’ dari sana dan kita puas banget sekolah di sana. Makanya kita pingin Adam juga merasakan sekolah di sana :) Kalau untuk kuliahnya Adam? Udah ada rencana juga, tapi masih rahasia makanya ceritanya nanti-nanti aja. Kan Adam kuliahnya juga masih lama, masih 14 tahun lagi!

**

6 Responses to “Sekolah Jangan Setengah-Setengah”

  1. Eva Says:

    Ya ampun ternyata banyak banget pilihannya yah, jangankan sekolah, playgroup aja sudah macam-macam :-) Tapi setuju tuh, kalau bilingual mesti native atau yg level bhs inggrisnya grade 4-5, kalau nggak sayang soalnya anak2 sangat mudah mempelajari bahasa, tapi kalau dimulai dg dasar yg salah kan gawat… nggak mau coba home schooling Nov? Ortunya Adam kayaknya pas tuh modalnya :-)

  2. SaRaH Says:

    haha, kuliahnya Erasmus donggg tantee.. biar sama kaya tante Sarah (kikikikkkikiki, apaan sih aku?!?) ;p

  3. Ariwiati Says:

    Pik, kaget juga nih udah balik ke kampung tercinta .. welcome ya (nah ini bhs inggris yg jelas acak adut ya) ..hehehe .. Pik, minta no telpnya ya, siapa tau pas aku ke jkt kita bisa reunian bareng ..salam buat Nanang & Adam ya .. salam kangen dari surabaya

  4. Vica Says:

    Emang pusing yak pilih sekolah. Ini aja gue cari nursery buat Rafi maen2 (maklum ga pny temen :() bingung. Tapi, btw itu ga salah pake bilingual spt itu hahaha. Itu mah gado2 abis. Jd inget artikelnya Gene Netto soal sekolah swasta di Indo. Gurunya (walapun sekolah bagus) bkn lulusan sekolah pendidikan guru, tp pokoknya bisa bhs Inggris, or bisa matematik, or bisa ini bisa itu, tapi ga bisa perhatiin perkembangan si murid. Mau jadi apa endonesa…

  5. qq Says:

    Jadi inget rencana ke depannya temenku yang bikin qq miris banget. Dia (warga Indonesia) memutuskan untuk pindah ke negara asal istrinya di benua amerika sana. Mereka berkesimpulan klo Indonesia bukanlah negara yang tempat untuk membesarkan anak-anak mereka. Ironis banget ya? Padahal dia sangat berperan dalam membantu anak-anak jalanan di ibukota ini. Apa tulisan mbak ini adalah salah satu pertimbangan mereka?

  6. Novita Says:

    >> Untuk Eva; homeschooling beneran kayaknya belum sreg deh gue. Mungkin gue masih sreg ama sistem sekolah biasa. Adam disekolahin ke sekolah biasa, trus di rumah tetap emaknya yang ngajarin :)
    >> Untuk Saran; Lho, kok tau sih kalo Adam mau dikirim kuliah di Erasmus? Tau dari mana coba?? hehehehe..

    >> Untuk Ai; No hp jakarta gue japri ya.

    >> Untuk Vica; Di Indo juga ada sekolah yang bagus kok. Ayo kirim Rafi sekolah di sini :)
    >> Untuk Qq; Salah satu alasan yang bikin kita ‘berat’ meninggalkan Bld adalah pendidikan untuk Adam. Tapi kita yakin kok, hasil didikan di Indonesia juga bisa hebat. Ga usah jauh-jauh, buktinya Qq kan hasil didikan Indonesia dan ternyata bisa hebat seperti sekarang :)

Leave a Reply