Archive for May, 2007

If you’re happy and you know it, clap your hands

Wednesday, May 23rd, 2007

Lebaran 1994.

"Maaf lahir bathin, tante", gitu ucapan gue sambil nyalamin saudara jauh nyokap yang gue panggil tante.

"Eh, ini si Novi ya? Udah lama ga kelihatan. Kuliah di mana sekarang?." Duile si tante surprise banget kayaknya liat gue saat itu beredar di Jakarta.

"Di Bandung, tante"

"Ooh, di Bandung. Kapan lulus?." Oalah si tante, bukannya nanya kuliah di jurusan apa, malah nanya kapan lulus.

"Belum tahu, tante. Doain aja biar cepet lulus", jawab gue polos. Habis, mau jawab apa dong ya?

Untung aja Lebaran tahun berikutnya, 1995, gue udah lulus. Gue pikir, nanti kalo pas ketemu si tante lagi, gue bisa jawab "Alhamdulilah udah lulus, tante" :)

**

Halal Bi Halal 1995.

Waktu nyalamin sodara-sodara gue, mereka pada tanya "Lho, Novi sekarang udah balik ke Jakarta? Ga tinggal di Bandung lagi.?

Gue jawab "Iya, udah di Jakarta lagi. Karena udah selesai kuliah di Bandung."

Dan pertanyaan lanjutannya dari sodara gue, "Kerja di mana sekarang?."

Aha, untung aja pas lulus gue langsung dapet kerja, jadi bisa jawab "Kerja di Schlumberger Jakarta."

Sodara gue tanya lagi, "Udah punya pacar belom?." Halah, kok malah lanjut nanya pacar. Mbok ya nanya kantornya di mana, seneng ga kerja di sana, kerja di bagian apa gitu kek :(

**

Halal bi halal 1998.

"Kerja di mana sekarang?", Om gue tanya.

Gue jawab, "Sekarang udah ga di Schlumberger lagi, Om. Pindah ke Citibank." Dalem ati gue mikir kira-kira pertanyaan berikutnya apa ya?.

"Di mana kantornya?", om gue tanya lagi. Aha, ternyata pertanyaan berikutnya masih nyambung :) "Kantornya di Sudirman, Om". Bla..bla.. asyik ngobrol ama si Om seputar kerjaan.

"Terus, kapan rencana menikah?", lanjut si Om. Oalah, ternyata ujung-ujungnya ada pertanyaan lanjutan yang ga nyambung. Topik awalnya kan kerjaan, eh kok tau-tau tanya kapan nikah :)

**

Farewell di Camoe-Camoe 2001.

"Nov, lu di Belanda mau berapa tahun?" tanya si Ocha temen gue.

"Rencananya sih cuma setahun. Program sekolahnya juga cuma setahun kok", jawab gue sambil ngambil bakwan jagungnya Camoe-Camoe.

"Terus, lu kapan punya anak?", si Ocha nanya lagi.

"Ntar ya, lu gue kabarin kalo gue udah punya anak", sahut gue santai.

**

Sowan ke rumah sodara tahun 2007.

"Eh, si Novi udah balik dari Belanda. Kapan nih nambah?", tanya sodara gue sambil ngelirik ke anak gue yang baru satu, Adam.

Gue berlagak polos aja jawabnya, "Hmmm, nambah apa nih? Nambah gendut, nambah deposito, atau nambah cakep?."

Sodara gue nyahutin sambil ngakak, "Yaa nambah anak dong!."

Untung gue udah nyiapin jawaban kalo ada yang nanya kaya’ begini. "Adam punya adik? Santai aja, Belanda masih jauh kok!". Ga nyambung ga nyambung deh. Abis pertanyaannya ga nyambung juga sih. Mbok ya tanya, kapan datengnya, seneng ga balik ke Jakarta, keringetan melulu ga di Jakarta, etc. Kan masih banyak pertanyaan yang ga nyerempet (kaya metromini di Jakarta) pribadi begitu.

**

Yaah, begitulah orang-orang di sekitar kita. Sering banget ngasih pertanyaan yang tiada habisnya. Kalo masih kecil, ditanya udah sekolah belum. Kalo lagi kuliah, ditanya kapan lulus. Kalo udah lulus, ditanya kapan kerja. Kalo udah kerja, ditanya kapan kawin. Kalo udah kawin, ditanya kapan punya momongan. Kalo udah punya anak, ditanya kapan ngasih adik. Kalo udah ngasih adik, masih ditanya lagi kapan nambah anak lagi. Kalo udah punya anak banyak, ditanya kapan mantu. Never ending questions, gitu loh.

**

Happy Kalo menurut temen gue, orang-orang bertanya begitu buat basa basi aja karena ga ada topik yang musti dibicarain. Oalah, kasihan banget kehabisan topik :) Mbok kalo enggak ada topik, ya ngegossipin selebriti aja. Kan acara infotainmen di tv banyak (Huss, ga boleh sering-sering nonton infotainment. Buang-buang waktu ah!)

Sedangkan kalo menurut nyokap gue, orang-orang bertanya begitu tanda mereka sayang sama kita. Misalnya nih ada orang yang sudah menikah tapi belum punya anak, nah para sodara-sodara itu kalau tau kita belum punya anak, bakalan ndorong-ndorong supaya kita segera punya anak dan ngasih saran ini itu supaya cepet bisa punya anak. Karena mereka semua pingin kita bahagia, gitu kata nyokap. Lho, yang tau kita bahagia atau enggak kan kita sendiri ya? Kalo ada orang yang bahagia tanpa punya musti anak, ya sah-sah aja dong. Kok orang lain bisa-bisanya merasa tau apa yang bikin kita happy.

Kalo gitu tiap ketemu sodara-sodara, gue tepuk tangan aja kali? Tepuk tangan? Iya kan sesuai ama lagunya Adam di sekolah: 

If you’re happy and you know it, clap your hands (clap clap!)

If you’re happy and you know it, clap your hands (clap clap!)

If you’re happy and you know it, and you really want to show it

If you’re happy and you know it, clap your hands (clap clap!)

Biar mereka tau kalo gue udah happy, jadi ga usah tanya-tanya lagi :)  

**

Sekolah Jangan Setengah-Setengah

Wednesday, May 16th, 2007

StudentBaru pertama kali aku dan my hubby jadi orang tua yang harus mencari sekolah di Jakarta yang pas untuk Adam. Sekolah yang pas, maksudnya yang menurut kami paling optimal buat Adam. Yang pernah punya pengalaman mendaftarkan sekolah buat anak di Jakarta, pastilah tahu bahwa di Jakarta itu ada banyaaak sekali sekolah yang berlomba-lomba menarik minat orang tua untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah tersebut. Itulah sebabnya kita harus kritis memilih mana sekolah yang cocok untuk anak kita dan seesuai dengan kantong kita (alias ga terlalu mahal). Tulisan ini sekedar cerita sedikit pengalaman aku waktu mencari sekolah taman kanak-kanak (TK) buat Adam.

**

Ada sekolah yang menjanjikan bahasa pengantar bilingual bahasa Inggris-bahasa Indonesia, tetapi pengajar yang mengajarkan bahasa Inggris bukan native speaker melainkan guru yang dibekali dengan kemampuan berbahasa Inggris. Yang jadi masalah adalah jika guru tersebut kemampuan berbahasa Inggrisnya kurang baik tetapi sudah ditugaskan untuk mengajar di kelas bilingual. Sehingga anak-anak jadi terbiasa berbahasa Inggris yang kurang baik, kurang tepat, atau bahkan salah. Contohnya enggak usah jauh-jauh deh, di tempat anakku sekolah menjanjikan tahun depan sekolah tersebut akan dimulai program bilingual. Mulai dari sekarang, anak-anak sudah diajarkan berbahasa Inggris oleh seorang guru yang kalau bicara dengan anak-anak di kelas seperti ini contohnya: "Ayo anak-anak, sit down".  Atau "Anak-anak, lets count ada berapa jepit di rambutnya Anissa". Atau "What colour jam tangannya Aditya?". Aku yang dengernya prihatin banget. Bagaimana kemampuan berbahasa anak-anak itu nanti kalau diajari bahasa yang gado-gado begitu? Lebih baik tingkatkan dulu kemampuan berbahasa Inggris si guru, jangan mengajar jika kemampuannya hanya setengah-setengah.

**

Ada juga sekolah yang menjanjikan trilingual bahasa Inggris-bahasa Indonesia-bahasa Arab. Aku sendiri belum pernah melihat proses belajar di sekolah trilingual itu, mudah-mudahan anak-anak tidak diajar bahasa campur-campur Inggris-Indonesia-Arab.

**

Kalau menurut aku, kalau seorang guru tidak baik kemampuan bahasa Inggrisnya, lebih baik JANGAN mengajari anak berbahasa Inggris. Karena si anak nanti kalau berbicara dalam bahasa Inggris akan terdengar aneh atau malah jadi salah. Aku sendiri hampir tidak pernah mengajak Adam berbahasa Inggris di rumah, karena aku tahu bahwa bahasa Inggris aku masih jauh dari sempurna. Paling aku hanya sebatas mengajarkan Adam lagu anak-anak dalam Inggris. Rencananya nanti kalau Adam sudah cukup besar akan aku masukkan ke kursus bahasa Inggris yang gurunya (meskipun orang Indonesia) memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik.

**

Selain sekolah ‘bilingual’ atau ‘trilingual’, ada juga sekolah yang menjanjikan kelas terpisah. Antara murid dengan kemampuan ‘biasa’ alias tidak terlalu pintar atau tidak terlalu cerdas, dipisahkan kelasnya dengan murid berkemampuan ‘luar biasa’ alias pintar dan cerdas. Maksud pemisahan ini, menurut yang aku baca di website sekolah tsb, adalah supaya anak yang kemampuannya ‘luarbiasa’ bisa ditangani secara khusus. Waduh, kalau nanti aku masukkan anakku di sekolah itu dan  ternyata anakku termasuk yang berkemampuan ‘biasa’, apakah nanti tidak membuat si anak minder? Kalau menurut aku, tujuan sekolah adalah untuk membangun dan mengasah kecerdasan dan kemampuan si anak, dan bukan untuk memperkenalkan rasa minder.

**

Yang menarik juga adalah sekolah-sekolah super duper mahal yang menawarkan sistem IB (International Baccalaureate), pengertiannya bisa dibaca disini. Bagi orang tua pada umumnya, pengertian sekolah IB adalah sekolah yang kurikulumnya sudah disamakan dan diakui oleh universitas-universitas di luar negri sehingga nanti kalau si anak lulus setingkat SMA dari sekolah yang bersertifikat IB, si anak bisa langsung (atau lebih mudah?) masuk ke universitas di luar negri. Padahal kalau kita mau sedikit berfikir, ternyata tidak semua universitas di luar negri meminta IB sebagai persyaratan untuk masuk universitas. Bahkan universitas-universitas ranking utama di Eropa dan Amerika memiliki sistem penerimaan mahasiswa sendiri. Punya atau tidak punya ijasah dari sekolah berkurikulum IB tidak menjadi masalah. Si anak tetap bisa mendaftar ke universitas-universitas ranking utama di Eropa dan Amerika asalkan si anak lulus seleksi. Jadi ga ada gunanya dong nyekolahin anak mahal-mahal ke sekolah berkurikulum IB? Tentu ada gunanya, pastinya sekolah berkurikulum IB bermaksud agar anak dilatih berkemampuan ’sama’ dengan anak-anak di luar negri sehingga nanti mereka menjadi lebih kompetitif saat mereka mendaftar ke universitas di luar negri.

Hanya saja bagi mereka yang tidak menyekolahkan anaknya ke sekolah berkurikulum IB, tak usah merasa sedih tidak dapat menyekolahkan anaknya ke sekolah ‘terbaik’. Tidak. Banyak kok sekolah lain yang tanpa berkurikulum IB, tetapi tetap memiliki kualitas yang baik.

**

Ternyata bener kalau temen aku ada yang pernah bilang, "Anak gue yang mau sekolah, kok gue yang stress ya?". Emang susah sih cari sekolah yang tepat untuk anak :)

Sebenarnya, kalau menurut saya, didikan utama bagi anak dimulai dari rumah. Orang tua harus bisa senantiasa memberikan contoh yang baik kepada anaknya. Orang tua di rumah bisa mengajarkan sopan santun, kasih sayang, disiplin, bermain, belajar dan bereksplorasi. Apa yang diajarkan di sekolah bukan 100 persen tanggung jawab guru, tapi juga tanggung jawab dari orang tua. Bayangin aja 24 jam sehari, anak di sekolah dan di tempat kursus paling lama 10 - 11 jam. selebihnya 14 sampai 13 jam dihabiskan anak di rumah bersama pengasuh atau orang tua. Jadi, biar gimana pun orang tua atau pengasuh tetap berperan penting dalam mendidik anak, bukan hanya guru.

**

WisudaSampai hari ini aku dan my hubby belum memutuskan Adam akan disekolahkan di sekolah dasar (SD) yang mana. Selama 2 tahun ke depan masih akan kami gunakan untuk mencari sekolah mana yang tepat buat Adam. Tapi kalau sekolah SMA, kita udah rencana akan nyekolahin Adam ke SMUN 8 di Bukit Duri Jakarta. Kenapa? Soalnya kita berdua ‘produk’ dari sana dan kita puas banget sekolah di sana. Makanya kita pingin Adam juga merasakan sekolah di sana :) Kalau untuk kuliahnya Adam? Udah ada rencana juga, tapi masih rahasia makanya ceritanya nanti-nanti aja. Kan Adam kuliahnya juga masih lama, masih 14 tahun lagi!

**

Mendarat Dengan Selamat dan Jadi ‘Onta’

Tuesday, May 8th, 2007

Lebih dari sebulan yang lalu, kami sudah mendarat dengan selamat di Jakarta. Alhamdulilah kami bertiga sehat selama perjalanan di pesawat selama kurang lebih 15 jam. Berhubung kita ke Jakarta dalam rangka pindahan (bukan liburan), jadi barang yang kita bawa ke pesawat juga banyaaak banget; 2 koper gede, 1 koper kecil, 1 sepeda Adam, 1 papan ukuran tinggi badan, 2 tas laptop, 2 ransel, 1 sportbag, 1 paperbag gede, 1 lady handbag, dan 1 kereta dorongannya Adam. Lima barang pertama masuk bagasi, selebihnya masuk ke kabin. Untuuung aja ada Nike, yang berbaik hati nawarin njemput ke rumah dan nganterin ke Schipol naik mobil. Kebayang deh, kalo ga ada Nike gimana jadinya nasib kita bertiga beserta barang-barang :)

**

Dari mulai check in sampe boarding, gue bawa berbagai barang: ransel di punggung, tas laptop di bahu kanan, paperbag gede nyantol di bahu kanan sekalian selempangin lady handbag, di tangan kanan dan kiri bawa jaket winternya kita bertiga karena itu jaket-jaket tebal banget dan ga muat masuk tas. Sedangkan my hubby kurang lebih juga sama, dia bawa ransel di punggung, bahu kiri ada tas laptop, bahu kanan ada sportbag gede, lalu dua tangannya dorong buggy-nya Adam dan Adam duduk di situ. Pernah lihat onta bawa barang ga? Itu lho, onta yang kalo lagi bertugas mengangkut barang, tiap punuknya dicantolin barang kiri-kanan-depan-belakang. Yang ada gue dan my hubby serasa jadi onta, tiap ‘punuk’ di badan dicantolin barang :)

**

Udah gitu pas transit di Singapura, kita musti ganti pesawat. Yaah namanya juga naik SQ, kalo naik KLM kan ga perlu ganti pesawat :( Ya udah di sana kita jadi Onta lagi deh, semua barang yang masuk kabin musti dibawa pindah ke pesawat yang lain. Hampir setiap pramugari atau pramugaranya SQ di dalam pesawat nawarin bantuan untuk bawain barang gue. Kesian kali ya lihat gue yang udah kucel trus bawa barang buanyak banget. Ya gimana ga kucel, selama 12 jam Singapura - Amsterdam kita ga bisa tidur, karena perbedaan waktu dengan Rotterdam. Yang ada, baru aja kita mau tidur eh udah landing di Singapura. Rencana mau menikmati window shopping di Changi, boro-boro deh. Yang ada heboh pindah pesawat dan mata ngantuk kepingin tidur. Tapi untung juga lho ga bisa tidur di pesawat, jadi bisa nonton pilem banyak :)  Sempet nonton James Bond (tapi ternyata gue ga suka filmnya, isinya orang berantem melulu), sempet nonton Blood Diamond (tapi juga enggak suka karena banyak senjata dan darah), sempet nonton Holidaynya Cameron Diaz (nah, yang ini gue suka karena filemnya lucu), dan satu lagi nonton pilem The Pursuit of Happyness (film ini bikin gue kagum ada orang seperti itu, dan gue jadi tambah bersyukur deh).

**

Sekarang ini kita lagi adaptasi di Jakarta. Terutama adaptasi sama cuaca, kuman, bakteri, dan makanan. Sementara ini kita bertiga dilarang jajan sembarangan (tapi udah sempet jajan di KFC hehehe) dan sebisa mungkin makan makanan dari rumah aja. My hubby juga tiap hari ke kantor bawa bekal dari rumah, meskipun ternyata di kantornya sering ada acara makan-makan :)  Trus Adam juga lagi adaptasi ama lingkungan di Jakarta dan sudah mulai sekolah baru, di Kelompok Bermain Yasporbi di Pancoran Jakarta Selatan.

**

Sudah dulu ceritanya deh. Tuuh udah kedengeran azan subuh dari mesjid deket rumah. Waah, di Rotterdam mana bisa denger azan subuh seperti ini :)

**