Archive for February, 2007

Little Story…

Wednesday, February 28th, 2007

Kami (aku, Haris dan Adam) baru saja mengalami kehilangan. Kehilangan yang pada akhirnya kami terima dengan pasrah karena kami yakin itulah yang terbaik bagi kami menurut Allah SWT. Janin yang sudah berada 11 minggu dalam rahim aku, ternyata tidak sekuat yang kami harapkan. Janin itu harus ‘pergi’.

**

Empat hari berturut-turut, Jumat sampai hari Senin, setiap malam perut aku kontraksi hebat seperti mau melahirkan. Haris dengan sabar dan lembut menemani malam-malam penuh kontraksi dan bikin aku tidak bisa tidur. Setiap hari, kami melaporkan kondisi tersebut ke bidan yang bertugas untuk kondisi emergency. Menurut bidan, kontraksi hebat itu adalah tanda-tanda keguguran, perut rahim akan terbuka dan janin akan keluar dengan secara natural. USG juga menunjukan detak jantung janin sudah tidak ada. Tapi apa daya, sudah empat hari kontraksi hebat, mulut rahim belum juga terbuka. Janinnya masih mbandel tinggal di rahim ibunya. Ah, mungkin dia pikir rahim ibunya adalah tempat yang hangat dan nyaman untuk ‘bobo lama’.

**

Setelah empat hari tidak ada tanda-tanda janin akan keluar secara natural, bidan memberikan referensi untuk diperiksa Gynecologist di rumah sakit. Sudah aturan di Belanda bahwa pasien tidak bisa langsung diperiksa oleh Gynecolog. Untuk diperiksa Gynecolog, harus dengen referensi bidan. Hari Selasa, ditengah siraman hujan dan angin, aku berangkat sendirian ke rumah sakit St Fransiscus untuk ketemu Gynecolog. Aku enggak ngebolehin Adam dan Haris ikut ke rumah sakit. Biar mereka berdua istirahat di rumah, apalagi Haris juga sudah empat malam tidak tidur nemenin aku yang kesakitan.

**

Di rumah sakit, Gynecolog menganjurkan aku makan 3 tablet untuk merangsang kontraksi rahim agar janin keluar secara natural. Dengan sedikit terisak, aku bilang bahwa aku tidak mau lagi melewati malam-malam penuh kontraksi rahim. Empat hari sudah cukup membuat aku dan Haris capek fisik dan mental. Aku minta dioperasi saja, istilahnya di sini operasi curettage (orang Indonesia bilang dikuret). Mungkin karena kasihan lihat aku nangis, tampang kucel, rambut basah kehujanan, akhirnya si Gynecolog mengizinkan aku sore itu juga dikuret. Habis diperiksa, aku langsung ke ruang rawat inap, ganti baju operasi, dan diantar ke ruang operasi. Suster-suster yang ramah membuat hatiku tenang melewati operasi sendirian, tanpa ditemani dan diantar satupun keluarga. Salah satu suster bilang ke aku, "Be strong, mevrouw. You will be all right." Aku tersenyum sambil bilang terimakasih. Ah, tinggal di rantau memang memaksa kita jadi orang gagah perkasa. Coba kalo di Jakarta, pasti mau operasi curettage begini aku sambil nangis sambil diantar dan ditemani satu kompi keluarga :)

**

Operasi berjalan cepat, cuma 30 menit-an. Yang melakukan operasi ada 4 orang: dokter Gynecolog, dokter Anastesi, satu lagi aku lupa dokter apa, dan satu suster. Semua bekerja dengan gesit dan efisien. Dokter-dokternya laki-laki semua, gagah, dan keren :).  Dasar si Novi, lagi tengah kontraksi, udah mau dioperasi, masih aja ngelaba hehehe.. Aku cuma dibius lokal, jadi masih bisa ngeliatin tim dokternya kerja. Selesai operasi, aku istirahat di ruang rawat inap untuk menghilangkan rasa kebal di separuh badan, dari perut ke bawah. Sudah itu, diperiksa dulu sama dokter, lalu boleh pulang. Jam 9 malam Adam dan Haris datang menjemput. Ah senangnya dijemput sama orang-orang tersayang. Kami pulang bertiga, naik tram ditengah hujan yang masih turun lebat dan angin. Malamnya kami bertiga tidur tenang dan lelap.

**Se

Kehilangan ini Insya Allah membuat kami semakin kuat. Seperti yang aku bilang di atas, kami percaya bahwa itulah yang terbaik bagi kami. Dan aku bersyukur masih diberi nikmat kesehatan sampai saat ini (saat kontraksi hebat selama empat hari berturut-turut itu, aku serasa dalam keadaan antara hidup dan mati), dan masih memiliki my mom, my hubby, my son, dan semua keluarga dan teman. Alhamdulilahirobil ‘alamin, terima kasih ya Allah.

**

Jangan Ngeces

Tuesday, February 20th, 2007

P2080034Ada jajanan. Sepiring siomay isi lima potong: bakso udang, siomay berkulit isi udang, pare, kentang dan tahu berikut kuah kacangnya yang royal dan ga pelit. Dimakan hangat-hangat saat siomay masih mengepul baru angkat dari kukusan (atau boleh juga dihangatin di microwave hehe). Jangan lupa dikasih sedikit sambal botol dan kecap. Rasa dijamin uenak, tidak ada duanya karena memang ga dijual di warung atau di abang-abang di Belanda. Di mana belinya? Di mana lagi kalo bukan pesen sama Bu Taty, tetanggaku, sang penyuplai makanan :)

**

Untuk yang saat ini tidak tinggal di Indonesia, semoga tidak ngiler lihat fotonya :)

**

Angin Goreng Sutiyoso

Tuesday, February 13th, 2007

Ini ada dua tulisan mengenai banjir di Jakarta yang ditulis oleh mas Eddi Santosa, wartawan detik.com yang tinggal di Den Haag.

**

Angin Goreng Sutiyoso 1, dimuat di detik.com 8 Feb 2007.

Angin Goreng Sutiyoso 2, dimuat di detik.com 13 Feb 2007.

**

Terimakasih untuk mas Eddi yang sudah membuat ulasan yang baik tentang banjir Jakarta. Selamat membaca.

Jakarta Banjir!

Friday, February 2nd, 2007

Jakarta banjir!. Ah, sudah biasa. Eh beneran deh, kali ini banjirnya luar biasa. Menurut kompas.com, banjir menguasai ibu kota.

**

Ronibanjir2Akibatnya? Ribuan warga terjebak banjir dan terlambat di evakuasi dan puluhan ribu orang terpaksa mengungsi ke posko pengungsian terdekat karena rumah mereka tidak bisa dihuni karena terkena banjir. Hari Jumat ini, perkantoran banyak yang sepi karena karyawan tidak masuk karena rumahnya kebanjiran, atau tidak ada alat transportasi untuk berangkat ke tempat kerja. Bencana susulan yang dikhawatirkan adalah penyakit setelah banjir: leptospirosis dan diare.

**

Penyebabnya? Menurut media cetak, karena hujan deras terus menerus melanda Jakarta di hari Kamis dan Jumat, dan drainase di Jakarta sudah tidak terpelihara dan ketinggalan jaman. Haduh, ini pemerintah Jakarta kemana aja sih, ngurus drainase doang ga becus. Coba kalo ngebangun mall, pol-polan! Ngurusin drainase yang basic dan penting untuk hajat hidup orang banyak, ga beres!

**

Akibat langsungnya? Kita di sini dapat kiriman ‘banjir’ sms dari Jakarta. Breaking news dan News update. Rumah my mom tercinta di Duren Tiga juga kena banjir. Hari Kamis siang banjir pertama kali masuk rumah, air masuk sampai sebetis. Semua orang di rumah dikerahkan mengangkat barang-barang yang bisa diangkat biar selamat dari banjir. Enggak lama banjir surut. Seperti biasa ritual orang setelah banjir: ngepel gila-gilaan dan mendesinfektan seluruh lantai rumah. Lalu Kamis malamnya seluruh orang di rumah siap-siap mau istirahat tidur. Ternyata Jumat siang banjir kedua datang. Air masuk lagi sampai semata kaki. Lagi-lagi orang di rumah dan bala bantuan yang datang begadang. Setelah air surut, semua mengepel dan lagi-lagi menebarkan karbol ke lantai. Pinggang rasanya mau rontok deh, gitu kata my sister. Iya, ngebayang kok dilanda banjir dua kali berturut-turut. Sambil dalam hati kami semua berdoa, semoga tidak ada banjir ketiga. Tapi apa mau dikata, hari Sabtu subuh banjir ketiga datang. Astaghfirullah. Belum pernah kejadian seperti ini. Banjir sampai 3 kali berturut-turut. Sampai blog ini diupload, belum ada update sampai seberapa parah banjir ketiga ini.

**

Kondisi di sini? Sedih banget mikirin yang di Jakarta. Pingin deh bantuin ngangkat-ngangkat barang ke tempat yang lebih tinggi, ngepel-ngepel sambil main air, dan nyiramin karbol ke seluruh lantai. Tapi apa daya. Cuma bisa berdoa, berdoa dan berdoa supaya yang di Jakarta terus sabar dan sehat enggak ada yang terkena penyakit. Tapi dalam hati masih bersyukur, banjirnya ‘hanya’ sebatas betis dan mata kaki, meskipun sudah bikin pinggangnya my sister serasa mau rontok. Di tempat lain banyak yang lebih parah sampai rumah pun tidak bisa dihuni gara-gara banjir.

**

Siapa yang salah? Ah, susah deh kalo musti nyalahin orang lain. Tapi kalo boleh ngomong, yang salah Sutiyoso barangkali? Sudah bertahun-tahun jadi gubernur, teteeeep aja ga becus ngurus Jakarta!

**

Jadi mikir lagi, setelah Tsunami di Aceh dan Pangandaran, gempa di Jogja dan di tempat lain, KM Senopati Nusantara di Laut Jawa, AdamAir di .. eh entah di mana, masih pingin pulang?

**

**

Update. Alhamdulilah banjir ketiga di rumah nyokap hari Sabtu subuh tidak separah banjir sebelumnya. Kata my sister, ‘cuma’ semata kaki. Banjir ketiga ini ditanggapi my sister dengan ringan: "Ga papa, kita banjir ga sendirian kok. Yang lain juga pada kena banjir hehe."  Begitu bunyi sms dari my sister. Ah, manusia memang mudah beradaptasi. Padahal waktu banjir pertama, isi smsnya ga sesantai itu :)

**

Btw, hari minggu ini baca di detik.com bahwa Bang Yos bilang kalau banjir Jakarta kali ini akibat fenomena alam. Huaaaaaa, pingin ketawa deh dengernya. Fenomena alam gundulmu, kata my hubby. Lha di Belanda yang lowland, daratannya lebih rendah dari permukaan laut, juga kena efek global warming, tapi (Alhamdulilah) ga ada banjir tuh!. Lagian gimana ga ada banjir sih Bang Yos, yang dibangun ruko ama mall melulu, tapi ga punya kanal. Trus itu anggota De-Pe-eR yang tiap tahun studi banding ke Belanda ngapain ajah? Ga usah susah-susah studi banding segala lah, nyontek aja pembangunan kanal di sini. Lah itu di daerah Kebon Baru Tebet, banjir dari tahun 80-an (belum ada global warming toch tahun segitu?) tapi teteeeep aja tiap tahun sampe tahun 2007, banjir melulu.

**

Haduh, maaf ya saudara-saudara yang kebetulan baca. Saya emosi sekali dengar gubernur Jakarta mengkambinghitamkan fenomena alam. Maka dengan ini saya dengan blak-blakan mengkambinghitamkan gubernur Jakarta, Sutiyoso, sebagai penyebab banjir setiap tahun di Jakarta yang tidak pernah ada solusinya. Mudah-mudahan Sutiyoso tahu diri sehingga tahun ini tidak usah lagi mencalonkan diri sebagai gubernur.

**