Pelabuhan Hati
Friday, December 29th, 2006Di luar langit masih gelap, baru jam 4 pagi. Kutarik selimut tebalku untuk melawan hawa dingin bulan Desember. Kutoleh si kecil masih tidur lelap sambil memeluk gulingnya. Senyum ganteng masih tersungging di bibir mungilnya dan suara nafasnya terdengar lembut. Pasti dia sedang bermimpi indah. Kucium lembut dahinya. Memandangnya saat dia tidur membuat hati ini damai sekali. Tidak putus-putusnya aku bersyukur diberi kesempatan memilikinya, meskipun hidupku dibuat berubah 180 derajat setelah dia lahir. Tapi aku bahagia, sangat bahagia.
**
Di luar masih sepi sekali. Lampu rumah-rumah tetangga juga masih belum menyala. Aku dengar suara batuk kecil suami tercinta dari ruang sebelah. Sepagi ini suamiku sudah bangun. Pasti dia sedang menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda karena harus pulang teng jam 5 sore supaya masih bisa ketemu dan bermain dengan si kecil sebelum si kecil berangkat tidur.
**
Suamiku memang begitu, mengorbankan waktu tidurnya supaya bisa punya waktu lebih banyak untuk istri dan anaknya. Setiap hari saat pulang kerja, yang pertama dilakukan suamiku adalah mencium aku dan si kecil. Lalu suamiku buru-buru mandi, sholat, dan kemudian makan malam. Setelah itu, seluruh waktunya digunakan untuk bermain dengan si kecil. Kangen katanya seharian kerja meninggalkan si kecil di rumah. Kadang kami bertiga sama-sama nonton tv atau berdebat kusir kalau lagi ada topik menarik.
**
Suamiku bilang, rasa capek setelah kerja seharian langsung hilang sesampainya di rumah melihat anak dan istrinya. Kata suamiku, anak dan istri adalah tempat hatinya berlabuh. Waktu aku tanya pendapatnya tentang poligami, suamiku bilang, "Memilikimu dan memiliki anak darimu membuatku amat sangat bahagia. Aku ingin menghabiskan seluruh sisa waktuku hanya denganmu dan anak-anak kita. Hanya denganmu dan anak-anak kita, bukan dengan istri yang lain dan anak-anak dari istri yang lain. Doakan umur kita panjang, supaya kita bisa menghabiskan waktu yang lama bersama-sama.."
**
Rotterdam, Desember 2006
**
**
*Ditulis oleh seseorang yang tidak habis pikir kenapa jaman sekarang masih ada orang yang berpoligami dengan mengatasnamakan agama. Tidakkah mereka bahagia dengan monogami?