Hari Ini, Tiga Tahun Yang Lalu
Monday, August 21st, 2006Hari ini tiga tahun yang lalu, hari Kamis jam 2 siang jadwal aku ke MMC untuk periksa kandungan rutin seminggu sekali. Karena saat melahirkan sudah dekat, maka periksa kandungan saat itu sekaligus periksa CTG (periksa detak jantung bayi dan kontraksi rahim). Sebelum dapat giliran masuk ke ruang praktek dokter Yoso di lantai satu, kami (aku dan my hubby) diarahkan suster untuk langsung ke ruang CTG di lantai dua. Hasil dari periksa CTG itu nanti yang akan diserahkan ke dokter Yoso saat periksa kandungan.
**
Langsung aku dan suami masuk ruangan CTG. Ruangannya bersih, agak luas dengan beberapa tempat tidur yang masing-masing dipisah dengan gorden. Baru aku tahu kalau ruang CTG sama dengan ruang bersalin untuk ibu yang melahirkan normal. Di dalam ada seorang dua orang ibu yang sudah dekat waktunya melahirkan. Karena ruangan bersalin saat itu agak sepi, jadi percakapan antara kedua ibu dengan masing-masing dokter mereka bisa kedengaran jelas. Ibu yang satu agak mengeluh menahan sakit kontraksi yang kian sering datangnya. Sedangkan ibu yang satu kedengarannya sudah hampir bukaan rahim 10, dokter dan suster sedang mengingatkan cara mengejan.
**
Dalam hati aku rada bergidik, siap enggak ya aku melahirkan normal seperti mereka? Ah, siap lah. Udah senam hamil rajin banget kok, sampe kartu senam hamil aku penuh sama cap tanda hadir dari pelatih senam. Ditambah lagi ikutan hypnobirthing 6 session sama ibu Lanny. Harusnya sih aku siap banget buat melahirkan normal.
**
Kami memang memutuskan supaya bayi kami dilahirkan di Jakarta, bukan di Belanda yang mengharuskan ibu hamil untuk melahirkan di rumah (homebirth) dibantu bidan. Jika pada detik-detik melahirkan ternyata ada masalah, misalnya bayi ga mau keluar padahal rahim udah bukaan 10, baru dipanggilin ambulans buat ngebawa si ibu ke rumah sakit. Ya, di Belanda semua kelahiran normal dilakukan di rumah dan bukan di rumah sakit. Hanya ibu yang kehamilannya bermasalah boleh melahirkan di rumah sakit, itupun 3 jam setelah melahirkan normal atau 1 hari setelah melahirkan caesar, si ibu dan bayi sudah harus pulang ke rumah.
**
Homebirth di Belanda buat aku? No thank you deh, mendingan melahirkan di Jakarta aja. Bisa milih dokter kandungan, bebas milih rumah sakit, ditungguin sama my mom dan mertua. So jadilah aku pilih melahirkan dibantu dokter Yoso di MMC, Jakarta.
**
Kira-kira tiga bulan sebelum melahirkan, aku (berdua saja bersama bayi dalam perut) pulang ke Jakarta. My hubby tinggal sendirian di Rotterdam karena tidak bisa cuti dari sekolahnya. Sedihnya jangan dikira, lagi perut gendut musti misah sama suami. Tapi ga papa, yang penting bayi bisa lahir selamat.
**
Balik ke cerita di ruang CTG, perut aku dipasangin suster alat CTG. Untuk ngilangin nerveus, sambil CTG aku nerusin baca Harry Potter-5 pinjeman dari Vica. Dalem hati udah rada ga enak, entah karena nerveus seruangan sama ibu lain yang mau melahirkan, atau karena ini pengalaman pertama CTG. My hubby, yang sudah datang dari Rotterdam seminggu yang lalu untuk menemani saat melahirkan, duduk di samping. Aku ngelirik ke kertas panjang print out hasil CTG, sambil mikir kok ada grafik yang turun dan ada yang naik. Suster yang tadi masangin alat CTG, rada berkerut keningnya ngeliat hasil print out. Langsung aja aku tanya, "..hasil CTG-nya bagus ga suster?.." Sambil senyum susternya bilang, "nanti biar dokternya aja yang nerangin ya, Bu?" Walah, aku makin ga enak rasanya.
**
Selesai CTG, turun ke lantai satu pas langsung dapat giliran masuk ke ruang praktek dokter Yoso. Si dokter yang biasanya sering senyum, langsung serius tampangnya ngeliat hasil CTG. Lalu pelan2 dokter Yoso bicara, "Bu, setiap rahim ibu ada kontraksi, si bayi ga bisa napas (lalu dokter nyebutin istilah Deselerasi Lambat). Kalau ibu melahirkan normal kontraksi rahim akan lebih keras, si bayi bisa kehilangan napasnya. Lebih baik sesegera mungkin dikeluarkan dengan cara operasi. Toh sudah 38 minggu, bayi sudah siap keluar.." Deg, jantung kaya mau berenti. "Kapan dok, sebaiknya dioperasi?", aku tanya ke dokter. "Malam ini, bu. Saya bisa operasi jam 9 malam setelah selesai praktek di rumah sakit Bunda".
**
Ya sudah, pasrah aja. Tadinya hari itu rencana cuma mau periksa kandungan trus makan berdua di Pasar Festival, eh habis periksa kandungan malah langsung dirawat inap buat persiapan operasi nanti malam. Untungnya (tuh, orang Indonesia meskipun sudah kepepet masih bisa bilang ‘untung’) segala keperluan aku dan bayi sudah disiapin di rumah.
**
Hari sudah sore, sementara aku tinggal di ruang rawat inap, my hubby pulang ke rumah ngambil tas aku dan bayi, dan kasih tahu my mom dan mertua. Di rumah, my mom ngeliat suami balik dari rumah sakit sendirian, tanpa dikasih tahu langsung ngerti kalo hari itu aku musti dioperasi. Langsung my mom siap-siap buat ikut my hubby balik ke rumah sakit, untuk nungguin aku operasi. Untungnya jarak dari rumah ke MMC ga jauh, kira-kira sejam kemudian my mom dan my hubby dah sampe MMC. Lega deh, mau operasi ditemenin sama orang-orang tersayang. Yang kesian mertua, beliau kerja di daerah Kebayoran dan baru aja sampe rumah di Jurang Mangu, udah musti berangkat lagi ke MMC buat nungguin aku operasi. Kebayang masih capek pulang kerja udah musti pergi lagi.
**
Sementara di rumah sakit, aku sudah siap tiduran di kamar rawat inap, dan lagi diperiksa ini itu buat persiapan operasi: tensi darah, dipasang oksigen di hidung, periksa ini itu, isi formulir, dsb. Untungnya aku ga ada darah tinggi, ga ada alergi dan ga ada penyakit keturunan. Jadi persiapan melahirkan lancar.
**
Menjelang maghrib, my mom sholat di ruangan aku dilanjutkan baca Yassin. Kebetulan malam itu malam Jumat. Dalam hati aku cuma bisa berdoa, mudah-mudahan operasinya lancar. Sejak maghrib sampai menunggu saat operasi jam 9 malam, rasanya lamaaa sekali. Aku udah ga sabar pingin cepet2 selesai dioperasi. Kalo boleh milih, rasanya ga pingin ngejalanin saat operasi, maunya bayi langsung udah keluar aja.
**
Perasaan campur aduk saat aku didorong keluar dari kamar rawat menuju ruang operasi. Dasar aku emang orangnya nerveus-an. Padahal operasi caesar kan bukan sesuatu yang luar biasa. Cuma aku bener2 ga expect bakal elahirkan dengan cara operasi, lha wong sudah siap-siap senam hamil dan hypnobirthing lho..
**
Akhirnya tiba juga jam 9 malam. Aku didorong suster masuk ruang operasi. Karena nerveus, tensi darah sempet naik sesaat sebelum operasi. Dokter anastesi yang tiba duluan di ruang operasi mencoba menenangkan aku sambil bilang, "tenang aja bu. Zikir biar tenang.." Jam 9.15 dokter Yoso baru datang untuk mulai operasi, seperempat jam kemudian dokter Firman, spesialis anak, keluar sambil gendong bayi. Si bayi dikasih ke my hubby untuk diadzankan dan diqomatkan. Ga lama kemudian dokter Yoso keluar dari ruang operasi dan menerangkan ke my hubby bahwa si bayi terlilit plasenta dengan tiga lilitan di leher, di dada dan selempang dari pundak ke leher. Pantesan tiap ada kontraksi, si bayi kesulitan bernafas.
**
Saat itu my hubby mensyukuri keputusan kami untuk melahirkan di Jakarta. Coba kalo maksain melahirkan di Belanda, bisa-bisa last minute bayi udah ga bisa napas baru dipanggilin ambulans ke rumah sakit.. Ih, ga mau deh!
**
Aku sendiri baru keluar dari ruang operasi 2 jam kemudian. Malam itu juga, kami umumkan ke keluarga yang menunggu di rumah sakit, bahwa bayi tersebut kami beri nama Adam Omar Munandar. Nama ‘Adam’ dari my hubby yang diambil dari nama Nabi Adam. Nama ‘Omar’ dari aku yang nge-fans sama BBC World Affairs Editor yang humble, brave dan smart: Rageh Omaar (hehehe, yang playboy eh playgirl guenya nih kayaknya..). Sedangkan nama ‘Munandar’ diambil dari nama belakang my hubby.
**
Dan hari ini, 21 Agustus 2006, Adam Omar Munandar ulang tahun ke-3. Selamat ulang tahun, Nak. Doa ayah dan ibu senantiasa menyertai setiap langkahmu.
**
**
Rotterdam 21 Agustus 2006