“Mobil Lexus dan Pohon Zaitun”
Wednesday, September 28th, 2005
Akhirnya kelar juga baca bukunya Thomas L. Friedman "The Lexus and the Olive Tree" atau terjemahan bebasnya: Mobil Lexus dan Pohon Zaitun :-). Buku ini terbit pertama tahun 1999, dan dicetak ulang dan diperbaharui tahun 2000.
Bukunya mengenai Globalisasi. Meskipun telat baru baca 5 tahun setelah buku ini terbit, tapi isinya masih relevan dengan kondisi globalisasi sekarang. Penulisnya hebat, punya visi ke depan.
Yang namanya globalisasi bener-bener luar biasa kejadiannya. Contoh gampangnya nih, misalnya aku ke H&M beli sepotong jaket; Jaket itu buatan Cina, didesign oleh perusahaan Swedia bernama H&M, dijual di toko H&M di Rotterdam, dan dibeli oleh aku orang Indonesia. Atau contoh lainnya kalo aku ke toko corner shop deket rumah beli bawang putih; Bawang putihnya produksi di Cina, dipesan oleh distributor makanan Belanda, dijual di toko corner shop milik orang Marokko, dan lalu dibeli sama aku orang Indonesia deh..
Ngomong2 tentang buatan Cina, wah sekarang hampir semua barang kayaknya dibikin di Cina ya. Contohnya jaket yang aku beli di H&M itu tadi. Jaketnya bagus, jahitannya rapih tanpa cacat, dan harganya terjangkau banget. Maksud aku, kok bisa ya Cina bikin barang yang kualitasnya bagus dan harganya tidak mahal. Kalau orang bilang itu karena upah buruh di Cina murah, sama dong di Indonesia upah buruh juga murah. Tapi kok produk Indonesia tidak membanjiri pasar dunia seperti halnya produk Cina ya? Apa yang salah dengan Indonesia? Etos kerjanya kah? Birokrasi investasi di Indonesia kah? Kalau masalah kemampuan, aku yakin deh orang Indonesia juga bisa bikin barang yang berkualitas. Atau karena Indonesia kebanyakan penduduk, jadi barang produksi Indonesia sudah habis diserap sama konsumen dalam negeri jadi enggak cukup buat ekspor? Ngaco ah, di Cina penduduknya 1 milyar bo’! Tapi tetap aja barang ekspornya ada di mana2..
Balik lagi ke buku Mobil Lexus dan Pohon Zaitun tadi, sebagai pembaca ada banyak hal yang aku kurang setuju dengan pendapat si penulis buku. Si penulis cenderung mendewa-dewakan Amerika sebagai negara yang harus ditiru oleh negara lain kalau mau sukses berkompetisi di zaman globalisasi. Karena, menurut penulis, Amerika punya sistem pemerintahan, perdagangan, dan hukum yang superior. Dan sistem yang dianut Amerika lah yang paling sesuai di zaman globalisasi. Tentu saja tidak menurut aku!!.
Contoh yang gampang aja, beberapa waktu yang lalu pemerintah dan pelaku bisnis di Amerika kebat-kebit waktu CNOOC nge-bid mau beli UNOCAL karena takut kalau Cina akan menguasai industri minyak di Amerika. Tuh, mana ada yang namanya murni perdagangan adil (fair trade), pasti biar gimana ada kepentingan politik. Lalu sampai sekarang Amerika enggak mau tandatangan Kyoto Protocol dengan alasan yang tidak jelas kenapa. Contoh lain, gimana pemerintah Amerika masih rasialis, terlihat jelas dari cara mereka menangani bencana alam Katrina.
Biar gimana, menurut aku, enggak ada satu negarapun yang super. Mau negara maju, berkembang, atau miskin pasti di sana sini masih banyak kekurangannya meskipun banyak punya kelebihan. Dan disitulah tantangannya, karena semua negara masih harus belajar untuk menjadi yang lebih baik…
Oh ya, buku berikutnya yang akan aku baca judulnya "In Defense of Globalization" oleh Jagdish Bhagwati. My hubby sudah pinjem dari perpustakaan. Kalo sudah kelar baca nanti, aku tulis pendapat lagi di blogs deh..






